BREAKING :

Aliran Air Perkebunan Sawit Diduga Rusak Kebun Warga, Dinas Pertanian Nias Janji Panggil Perusahaan

Lokasi perkebunan warga yang terdampak aliran air perusahaan di Bawolato Nias | Foto : istimewa 

Nias – Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kabupaten Nias berjanji akan segera memanggil manajemen PT Nias Agro Sejahtera. Langkah ini diambil setelah adanya laporan dari para petani di Dusun I, Desa Balale Toba’a, Kecamatan Bawolato, yang mengeluhkan kerusakan lahan pertanian mereka akibat luapan air dan material lumpur yang diduga berasal dari kawasan perkebunan kelapa sawit milik perusahaan tersebut.

Kepala Bidang Perkebunan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (PTPH) Dinas Pertanian Kabupaten Nias, Adventina Dachi, menyatakan bahwa pihaknya telah turun langsung ke lapangan untuk meninjau kondisi tanaman warga yang terdampak, seperti jagung dan kelapa. Berdasarkan hasil pantauan awal, material sisa pembukaan lahan kelapa sawit diduga kuat hanyut terbawa air hujan hingga menggenangi kebun milik masyarakat.

"Berdasarkan informasi dari warga, sisa material akibat pembukaan lahan dan lumpur terbawa air pada saat hujan deras," ujar Adventina saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu, 12 Agustus 2026.

Adventina menjelaskan, genangan lumpur tersebut mulai merusak kualitas tanaman. Tanaman kelapa milik warga kini menunjukkan gejala kerusakan fisik yang cukup serius, salah satunya ditandai dengan perubahan warna daun.

“Tanaman kelapa sudah mulai menguning daunnya. Kalau kondisi ini berlangsung lama, bisa menyebabkan tanaman mati. Begitu juga dengan tanaman jagung yang sudah terdampak oleh lumpur,” tambahnya.

Menurut Adventina, jika tata kelola pembuangan air ini tidak segera dibenahi, kerusakan lahan pertanian warga dikhawatirkan akan semakin meluas dan mematikan sumber mata pencaharian utama para petani setempat.

Ia menegaskan, masyarakat pada dasarnya mendukung investasi dan tidak menolak keberadaan perusahaan perkebunan di wilayah mereka. Warga hanya menuntut agar pihak korporasi membuat sistem drainase yang baik dan tidak mengalirkan limbah air ke area permukiman maupun kebun produktif warga.

“Warga sebenarnya tidak menolak PT. Mereka hanya meminta agar pembuangan saluran air jangan dialihkan ke Dusun I Desa Balale Toba’a,” ungkapnya.

Meski demikian, Dinas Pertanian mengaku belum bisa mendatangi langsung kantor operasional PT Nias Agro Sejahtera karena kendala geografis. Akses infrastruktur menuju pusat perkebunan dilaporkan rusak parah dan berlumpur.

“Kami belum sampai ke lokasi PT karena kondisi jalan berlumpur. Dari Dusun I menuju lokasi PT harus ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 2 sampai 3 kilometer,” jelas Adventina.

Sebagai langkah cepat, Dinas Pertanian Kabupaten Nias akan segera mengirimkan surat resmi kepada pihak manajemen perusahaan untuk meminta klarifikasi sekaligus mengoordinasikan penanganan dampak lingkungan ini di lapangan. Para petani berharap ada tindakan korektif secepatnya sebelum kerugian material mereka semakin membengkak.

Hingga berita ini diturunkan, telah dirupayakan dikonfirmasi kepada pihak PT Nias Agro Sejahtera terkait keluhan warga dan rencana pemanggilan oleh Dinas Pertanian. Namun, pihak perusahaan masih belum memberikan tanggapan resmi. (JS)

0 Komentar

Type and hit Enter to search

Close