![]() |
| Kepala Suku Mee Papua Tengah Melkias Muyapa Memberi Penjelasan Terkait Sejarah Adat Di Kabupaten Nabire | Foto : Jeri. |
Nabire - Kepala Suku Mee Papua Tengah, Melkias Muyapa, meluruskan sejarah adat di Kabupaten Nabire kepada media jelajahsatu.com.
Ia menjelaskan bahwa dalam tatanan adat, yang menjadi pemangku dan penjaga nilai adat dan budaya di Nabire adalah Suku Mee dan Suku Wate.
"Yang dituakan untuk bicara adat dan budaya di Nabire itu adalah Suku Mee dan Suku Wate sebagai pemangku adat yang sejak dulu menjaga negeri ini," kata Melkias, Sabtu (26/9/2026).
Kata dia, Suku Mee dan Suku Wate adalah yang pertama menjaga dan merawat Nabire sejak masih berada di Napan dan sekarang pindah di Nabire dan menjadi Kabupaten Nabire. Mereka hidup rukun sebagai saudara.
Pernyataan tersebut sejalan dengan aturan hukum yang berlaku di Indonesia. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 18B ayat (2) ditegaskan, negara mengakui dan menghormati kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya.
Hal itu diperkuat dengan Permendagri Nomor 52 Tahun 2014 tentang Pedoman Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat, serta Peraturan Daerah Provinsi Papua Tengah tentang perlindungan masyarakat adat. Artinya, setiap daerah memang memiliki pemangku adat yang sah yang telah menjaga wilayah adatnya secara turun-temurun.
Sebagai contoh kasus, di Nabire selama ini setiap prosesi adat besar seperti bakar batu, musyawarah adat, dan pelepasan tanah adat selalu dilakukan oleh tua-tua adat dari Suku Mee dan Suku Wate sebagai pemangku. Ini menjadi bukti historis yang hidup sampai hari ini.
Namun hari ini Nabire sudah bertumbuh menjadi rumah besar bersama.
"Nabire ini milik kita semua. Semua suku dari 8 kabupaten dan saudara-saudara Nusantara sudah lama tinggal, hidup, dan membangun Nabire bersama-sama. Kita semua sudah menjadi satu keluarga besar," ujarnya.
Untuk menjaga kebersamaan keluarga besar itu, ia meminta Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten, DPR, MRP, dan TNI/Polri untuk bersama-sama menjaga dan menghormati tatanan adat yang ada di Nabire.
"Tujuannya supaya ke depan tetap saling menghormati. Yang pemangku adat tetap dihormati sebagai penjaga adat, dan semua suku yang datang juga dihargai sebagai bagian dari keluarga besar Nabire. Ini untuk menjaga persaudaraan," katanya.
Lebih lanjut ia berharap, "Pemerintah harus melibatkan tokoh-tokoh adat untuk ke depan, itu yang kami harapkan."
Ia menegaskan pernyataan ini untuk menjaga persaudaraan, bukan untuk membedakan.
"Ini bukan untuk merendahkan suku lain. Semua suku sama-sama berharga. Mari kita saling menghargai. Hormati adat dan budaya setempat yang sudah ada sejak nenek moyang," ajaknya.
"Karena adat itu warisan dari nenek moyang. Kalau kita saling menghargai adat, maka persaudaraan akan kuat," ujarnya.
Ia berharap semua suku di Nabire tetap bersatu mendukung pembangunan dari kota sampai ke pelosok desa di 8 kabupaten Papua Tengah.
"Kami sebagai Kepala Suku tetap eksis berada pada pihak masyarakat adat, dan mengangkat nilai-nilai adatnya. Supaya ke depan bisa tercipta situasi dan kondisi yang zona damai dan tenteram di Provinsi Papua Tengah," tutupnya.
(Jeri Kogopa)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

0 Komentar