![]() |
| Kantor Cabang Dinas Pendidikan Wilayah X Dinas Pendidikan Sumatera Utara | Foto : Yasmend |
Tapteng - Terkait dugaan Mark-up anggaran revitalisasi pembangunan SLB Negeri Pinangsori di respons oleh Cabang Dinas Pendidikan Wilayah X Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara saat ditemui, akan segera dimintai klarifikasi dari kepala sekolah. Jumat (09/10/2026).
Hal tersebut diungkapkan Kepala Seksi SMA Cabang Dinas Pendidikan Wilayah X, Marpaung saat ditemui oleh jelajahsatu.com dikantornya.
Merespons aduan dan berkas evaluasi yang dibawa oleh media, Kasi SMA Cabdis Tapteng menyatakan pihaknya belum bisa memberikan keputusan atau masukan instan sebelum melakukan verifikasi internal secara objektif.
Di hadapan pihak Cabdis, di paparkan kronologi serta rentetan kejanggalan yang terjadi di lapangan mulai dari fenomena sekolah tanpa aktivitas hingga pengakuan mengejutkan pekerja proyek yang mengaku menabrak Rencana Anggaran Biaya (RAB).
"Kalau masukan serta klarifikasi nantilah dulu, akan tetapi kita akan coba konfirmasi dulu sama Kepsek-nya (Kepala Sekolah_red), Setelah itu nanti kami kabari," ujar Marpaung saat memberikan keterangan resmi di ruang kerjanya.
Langkah responsif dari pihak Cabdis ini menjadi tumpuan harapan besar terhadap masyarakat, diharapkan dan didesak agar Cabang Dinas Pendidikan Tapanuli Tengah bergerak cepat menuntaskan polemik ini. Pembiaran terhadap masalah ini dikhawatirkan dapat mencoreng nama baik dunia pendidikan, dan diduga mengangkangi tanggung jawab profesi, serta mencederai prinsip pelayanan publik yang humanis dan transparan.
Polemik yang melilit Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Pinangsori, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara ini memasuki babak baru yang kian memanas. Setelah diterpa isu miring soal lumpuhnya aktivitas belajar dan dugaan mark-up anggaran revitalisasi gedung, pihak sekolah kini memilih mengambil langkah defensif dengan mengunci rapat gerbang utama dan menerapkan aksi bungkam kepada awak media.
Aksi penutupan akses ini terjadi saat sejumlah wartawan kembali menyambangi lembaga pendidikan khusus tersebut pada Jumat (09/10/2026) untuk meminta klarifikasi lanjutan. Langkah mengisolasi diri ini dinilai publik justru memperkuat indikasi adanya persoalan sistemik yang sedang ditutupi oleh manajemen sekolah.
Suasana SLB Negeri Pinangsori tampak berubah drastis dibanding hari sebelumnya, Jika pada Kamis (08/10/2026) sekolah ditinggalkan dalam kondisi kosong melompong, kali ini sejumlah tenaga pendidik terlihat berada di dalam area fasilitas sekolah.
Namun, alih-alih menunjukkan sikap kooperatif sebagai pelayan publik, pihak sekolah justru memilih menggembok pagar besi pembatas. Saat wartawan mendekat dan mencoba mengetuk pintu untuk melakukan konfirmasi secara baik-baik, para guru yang berada di dalam hanya bergeming. Mereka memilih tetap bungkam, mengabaikan kehadiran wartawan, dan menolak membuka pintu akses masuk.
Upaya membarikade diri ini kontras dengan status institusi tersebut sebagai sekolah negeri yang dibiayai oleh uang rakyat, di mana asas transparansi dan akuntabilitas publik seharusnya dikedepankan.
Diberitakan sebelumnya, Gedung Berdiri Kokoh, Ruang Kelas SLB Negeri Pinangsori Diisi Keheningan. (Yasmend).

0 Komentar