BREAKING :

Dari Kursi Kayu KODAA COM, Masa Depan Diketik Satu per Satu: Warisan Ilmu yang Tak Lekang Waktu


Oleh: Marten Bunai - Alumnus KODAA COM 2008-2014

Jasa seorang guru tidak akan pernah hilang dari ingatan. Pepatah lama itu terasa begitu nyata ketika saya membuka kembali sebuah foto yang hampir pudar. Di foto itu, saya dan dua teman duduk di kursi kayu yang sudah lapuk, menatap layar komputer tabung yang berdengung keras. Ruangan itu sempit, panas, dengan kabel yang berserakan. Di sanalah saya menghabiskan enam tahun hidup saya, dari 2008 hingga 2014. Tempat itu bernama KODAA COM - Balai Pendidikan dan Pelatihan Komputer.

Enam tahun bukan waktu yang singkat. Jika di kota besar enam tahun bisa berarti lulus kuliah dan magister, di pedalaman Papua enam tahun itu adalah pertaruhan tentang apakah kami bisa keluar dari buta teknologi atau tidak.

Ketika Komputer Adalah Kemewahan

Kita harus jujur mengakui konteksnya. Tahun 2008, ketika anak-anak di Jawa sudah bermain Facebook dan Friendster, di tempat kami listrik saja masih padam bergilir. Menurut data BPS kala itu, penetrasi internet di Papua di bawah 5%. Komputer bukan alat kerja, melainkan barang mewah yang hanya ada di kantor pemerintah kabupaten.

Di KODAA COM, masa depan benar-benar diketik satu per satu. Kami tidak langsung diajari hal canggih. Kami diajari cara memegang tetikus yang benar agar tangan tidak kram. Diajari mengetik sepuluh jari tanpa melihat papan ketik, berjam-jam, sampai jari lecet. Diajari apa itu CPU, RAM, hardisk, bagaimana membersihkan motherboard dari debu pedalaman yang tebal.

Bagi orang kota, itu pelajaran dasar yang membosankan. Bagi kami, itu adalah pintu gerbang dunia. Dari kursi kayu itulah pertama kali saya tahu bahwa dunia itu lebih besar dari kampung saya.

Pengajar Bekerja, Pendidik Mewariskan

Semua kemampuan yang saya miliki hari ini, kemampuan yang membawa saya bisa menulis opini ini di laptop, tidak datang dari ruang hampa. Ada sosok yang mewariskannya dengan tulus.

Sosok itu adalah Bapak Stefanus Kadepa,S.Kom.

Banyak yang bisa menjadi pengajar. Datang, mengajar materi, pulang, dapat honor. Tapi tidak banyak yang bisa menjadi pendidik. Inilah bedanya.

Pengajar menjalankan tugas. Pendidik seperti Pak Stefanus memberikan warisan. Ketika komputer rusak, beliau tidak marah, beliau bongkar bersama kami. Ketika kami lambat menghafal, beliau ulangi lagi dan lagi sampai jam 9 malam, tanpa dibayar lembur. Ketika kami tidak punya uang kursus, beliau izinkan kami tetap belajar sambil membantu membersihkan ruangan.

Saya meyakini, kualitas seorang guru tidak diukur dari banyaknya materi yang diajarkan, apalagi dari gelarnya. Kualitas guru diukur dari seberapa besar pengaruh ilmunya terhadap jalan hidup anak didiknya. Dan pengaruh Pak Stefanus adalah jalan hidup.

Jika hari ini ratusan alumni KODAA COM bisa menjadi operator sekolah, staf kantor, teknisi, bahkan sarjana komputer, itu karena satu orang di tahun 2008 memutuskan untuk tidak menyerah pada keterbatasan.

Potret Buram Pendidikan Vokasi di Papua

Kisah kecil dari kursi kayu KODAA COM ini adalah potret besar tentang wajah pendidikan vokasi di Papua.

Kita terlalu silau dengan pembangunan fisik. Kita bangga membangun jalan trans Papua, gedung megah, jembatan tinggi. Tapi kita lupa, siapa yang akan mengoperasikan komputer di gedung megah itu jika manusianya tidak disiapkan?

Data Kemendikbud menunjukkan, penyumbang pengangguran terbesar di Papua justru lulusan SMA/SMK umum yang tidak memiliki keterampilan spesifik. Sementara itu, lembaga vokasi berbasis komunitas seperti KODAA COM yang terbukti efektif, justru hidup segan mati tak mau, tanpa dukungan anggaran yang jelas.

KODAA COM adalah bukti bahwa pendidikan tidak harus mahal dan megah. Ia hanya butuh satu ruangan, tiga komputer, dan satu guru yang setia. Tapi dari kesederhanaan itulah lahir peradaban digital di timur.

Apa yang Harus Kita Lakukan?

Nostalgia tanpa solusi adalah sia-sia. Dari kursi kayu KODAA COM, saya menawarkan tiga jalan:

Pertama, Negara Harus Hadir untuk Melihat. Pemerintah Kabupaten dan Provinsi harus memetakan dan menghidupkan kembali balai latihan kerja komunitas. Beri bantuan 10-20 unit komputer refurbished, berikan insentif listrik dan internet gratis. Jangan hanya fokus membangun SMK baru yang gurunya pun tidak ada.

Kedua, Muliakan Guru Vokasi Lokal Berikan sertifikasi dan apresiasi resmi kepada instruktur seperti Bapak Stefanus Kadepa. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa di era digital. Tanpa mereka, program Papua Digital hanyalah slogan di atas kertas. Berikan mereka pelatihan, berikan mereka status.

Ketiga, Kurikulum yang Membumi. Jangan paksakan anak pedalaman Papua langsung belajar AI atau coding Python tingkat tinggi. Ajarkan mereka cara merawat komputer di daerah berdebu, cara memperbaiki printer yang rusak karena lembab, cara membuat surat resmi, proposal, dan laporan keuangan di Excel. Keterampilan yang langsung bisa dipakai untuk dapat kerja.

Terima Kasih yang Tak Lekang Waktu

Foto itu kini boleh usang. Komputer tabung di foto itu mungkin sudah menjadi besi tua yang ditimbang kiloan. Ruangan dengan kursi kayu itu mungkin sudah pindah atau tutup.

Tapi warisan ilmunya tidak akan pernah usang. Ia hidup di setiap ketikan jari alumni KODAA COM. Ia hidup di setiap dokumen yang kami buat, di setiap anak Papua yang kami ajari kembali.

Dari kursi kayu KODAA COM, saya belajar satu hal yang paling penting dalam hidup: masa depan tidak datang dengan sendirinya. Masa depan tidak turun dari langit. Masa depan harus diketik, satu per satu, dengan peluh, sabar, dan bimbingan seorang guru yang ikhlas.

Terima kasih, Pak Stefanus Kadepa,S.Kom. Jasa dan warisan ilmu yang Bapak berikan akan terus hidup, mengalir, dan bermanfaat sepanjang masa. Tuhan memberkati.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

0 Komentar

Type and hit Enter to search

Close